Sebelum mudik kemarin (27 September 2008), aku sengaja mampir ke kak Wawan. Tadinya, mau ngambil kunci sanggar, tapi ternyata dah dibawa anak2..ehmm…gak jadi ke sanggar dech. Akhirnya, kita ngobrol2 ngalor ngidul…mulai tentang Pramuka (kebetulan beliau adalah salah satu korps Pembina 611) sampai Politik he…Saat ngobrol kemarin, ada hal yang menarik tentang Politik Garam….
Ceritanya, saat itu kira2 tahun 90-an, telah diresmikan sebuah masjid milik Muhammadiyah (..saya lupa nama masjidnya..yang jelas sampai sekarang bisa dilihat tandatangan Pak Amien di Batu Peresmiannya..) di Keputih gg.2. Masjid itu diresmikan oleh Bapak Amien Rais. Saat itu, beliau belum jadi “apa-apa” (..Mungkin saat itu, baru pulang dari AMrik ya…). Layaknya sebuah peresmian, selalu ada pdato peresmian. Nah, yang menarik adalah pidato peresmian dari Pak Amien. Kala itu, beliau menyebutkan bahwa Muhammadiyah bukan partai politik tetapi juga memainkan politik. Menurut beliau Muhammadiyah hanya memainkan 2 jenis politik, yaitu Politik Garam dan Politik Tingkat Tinggi.
Dalam pidatonya disebutkan bahwa garam adalah barang sepele, namun tidak ada masakan di dunia ini yang dalam pengolahannya tidak menggunakan garam. Jadi maksudnya, Muhammadiyah berperan seperti garam. Sepak terjangnya mungkin terlihat sepele, tetapi efeknya global. Sedang Politik Tingkat Tinggi adalah politik dengan rencana strategi yang matang. Strategi yang melalui telaah kritis dan ilmiah.
***
Tak heran kala itu, tahun 90-an, Pak Amien dianggap sebagai orang yang cerdas. Pada era dimana pidato dan ceramah selalu terkesan normatif, beliau justru mengangkat tema yang kritis.
Ya..kira2 itulah pelajaran dan wawasan baru sebelum mudik. Selamat Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf Lahir dan Batin.
NB : saya bukan orang Muhammadiyah atau ormas Islam lainnya..aku hanya seorang yang ingin belajar tentang kehidupan





Recent Comments