“Pupuk Bawang”, bukan pupuk organik bukan pula pupuk buatan..tapi ini pupuk untuk jiwa2 hampa…
Saat kecil dulu, banyak sekali permainan yang kita mainkan. Mulai permainan individu hingga permainan kolektif. Dalam permainan anak2 Jawa, seringkali kita jumpai istilah “Pupuk Bawang”. Istilah ini biasa disematkan untuk peserta permainan yang paling kecil. Istilah “Pupuk Bawang” memang disematkan untuk anggota terlemah dalam kelompok tersebut yang biasanya adalah yang paling kecil atau paling muda. Karena paling muda, paling kecil, paling lemah maka ada beberapa aturan permainan yang tidak dikenakan pada “pupuk bawang”. Bahkan, terkadang si “pupuk bawang” terkesan hanya melakukan simulasi permainan.
Ada yang menarik dalam fenomena ini. Sebuah nilai luhur budaya Jawa yang menghargai orang lain bagaimanapun bentuknya. Lazimnya, “orang lemah”, “orang kecil”, “anak muda” selalu dipandang sebelah mata, dianggap sebagai “pecundang” dan “pecundang” selalu disingkirkan. Tapi, mereka yang lemah masih diberi kesempatan untuk ikut merasakan permainan. Dan hasilnya, dalam waktu relatif singkat, mereka yang mendapat predikat “pupuk bawang” akan meningkatkan kemampuan untuk melepaskan predikat “pupuk bawang”. Wahh..hebat nggak tuch..???
Jadi ingat pesannya Mbah Baden Powel, sesepuh ingkang mbaurekso Pramuka sak ndonya. Beliau menyampaikan bahwa :
“..Pramuka itu bermain sambil belajar. Dalam permainan ada yang menang dan ada juga yang kalah. Bagi mereka yang kalah, jangan singkirkan mereka dari permainan. Ajak terus bermain hingga akhirnya dia bisa jadi pemenang…”
Well..akhirnya beri mereka kesempatan untuk berkembang. Dan untuk “pupuk bawang”, sudah siapkah anda melepaskan segala kenyamanan “pupuk bawang”..????!!??





Recent Comments