Sebuah kisah Bandung Bandawasa dari Tulungagung
Malam itu, 14 April 2008 pukul 22:00 WIB, Pondok Jawaahirul hikmah tampak ramai. Semua sedang sibuk mempersiapkan datangnya tamu dari seluruh penjuru nusantara pada tanggal 20-26 April nanti (Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional VII, nanti akan saya ceritakan lagi tentang acara ini). Nyaris tidak ada yang menganggur di pondok tersebut. Mulai dari bersih2 pondok, menata ruang tidur, latihan marching band untuk penyambutan, sampai dengan membangun beberapa kompleks kamar mandi semua dikerjakan oleh santri pondok. Salah satu yang menarik adalah pembuatan gapura setinggi ± 10 m dari bambu yang diikat dengan tali pramuka (ketrampilan ini biasa disebut sebagai pioneering dalam Pramuka).
14 April 2008, 23:00 WIB, gapura sama sekali belum terlihat bentuknya, bahkan belum tersentuh. Santri yang terlibat dalam pembuatan gapura mulai waswas karena 6 hari lagi acara tamu sudah berdatangan. Sementara tugas yang lain juga telah menunggu. Semua santri masih menunggu instruksi dari komandan pioneering. Padahal sang komandan masih menemani aku dan ketua panitia untuk makan malam di kaki lima (..he..he..jadi tamu kebesaran nich ceritanya..). Inilah wajah sang komandan, Kak Agus BF
Akhirnya 23:30 WIB, dimulailah “pekerjaan besar” untuk membuat gapura berbentuk kubah setinggi ± 10m. Wahh..aku nyerah kalau harus mbayangin kapan tu gapura bakal selesai..??..Mana harus buat 2 gapura lagi….??!!!??
Esok paginya, setelah sholat Subuh dan sedikit meregangkan otot, hanya geleng2 kepala yang bisa kulakukan. Bagaimana tidak, gapura yang baru tadi malam dikerjakan, sekarang, pukul 06.00 WIB, sudah siap untuk didirikan….???!!!??..?!!?##^?? Setelah 1 jam bermandi peluh dan harus menutup jalan (..kebayang khan macetnya, padahal jalan itu merupakan jalan utama dan waktu itu adalah jam berangkat anak sekolah..), akhirnya gapura setinggi 10 m sudah berdiri dengan gagah.
Gila…!!!???!! Ini seperti legenda Candi Prambanan dengan Bandung Bandawasa-nya, Tangkuban Perahu dengan Sangkuriang-nya, dan Nabi Sulaiman AS dengan seluruh pasukannya. Subhanallah…ini nyata…..
Mereka sepertinya benar2 menerapkan Quantum Ikhlas atau prinsip 1/0nya ESQ 165. Aku aja yang pernah ikut In House Training ESQ 165 masih belum bisa menerapkan..Wahhh..LUAR BIASA..!!!






waah….kayake kapan2 aku juga mau kesana…denger crita2 dr kalian, aku jadi penasaran…