Quote of the Day


“karena tantangan dan ketidakpastian justru akan menguatkan kita”

quote-ku yang ternyata masih diingat dan menjadi inspirasi bagi seorang adik. Obrolan di malam takbiran yang tak akan pernah dia lupakan….hehe…padahal aq sendiri udah lupa..

Sujud


Sujud oleh : KH Mustofa Bisri

Bagaimana kau hendak bersujud pasrah
sedang wajahmu yang bersih sumringah
keningmu yang mulia
dan indah begitu pongah
minta sajadah
agar tak menyentuh tanah.

Apakah kau melihatnya
seperti iblis saat menolak menyembah bapakmu
dengan congkak,
tanah hanya patut diinjak,
tempat kencing dan berak
membuang ludah dan dahak
atau paling jauh hanya jadi lahan
pemanjaan nafsu
serakah dan tamak.

Apakah kau lupa
bahwa tanah adalah bapak
dari mana ibumu dilahirkan,
tanah adalah ibu yang menyusuimu
dan memberi makan
tanah adalah kawan yang memelukmu
dalam kesendirian
dalam perjalanan panjang
menuju keabadian.

Singkirkan saja
sajadah mahalmu
ratakan keningmu,
ratakan heningmu,
tanahkan wajahmu,
pasrahkan jiwamu,
biarlah rahmat agung
Allah membelai
dan terbanglah kekasih

Continue reading

Cirebon part 2

Sebelum mudik, akan saya coba selesaikan dahulu Cirebon part 2, begini ceritanya :

Setelah seharian muter2 Cirebon, panas-panas blusukan Keraton Kanoman dan Kasepuhan akhirnya gerombolan kami menuju alun2 Masjid At-Taqwa. Menghabiskan sore di alun2 sini sangat menyenangkan. Banyak warga Cirebon yang “ngabuburit” di sini. Banyak pula hiburan yang disajikan, mulai kereta api mini sampai kolam pancing. Pilihan kuliner juga beragam, mulai Empal Gentong khas Cirebon sampai masakan Padang yang bersaing dengan sate ayam Madura. Bahkan keripik Mak Icih dari Bandung yang terkenal akan citarasa pedasnya juga ikut memeriahkan “ngabuburit” di alun2 At-Taqwa.

Alhamdulillah adzan Maghrib tiba, dan kami memilih Es Serut untuk sekedar membatalkan puasa hari itu. Kemudian kami bergerak menuju Masjid At-Taqwa untuk menunaikan Sholat Maghrib. Selesai menunaikan Sholat Maghrib, kami kembali ke jejeran tenda makanan. Dan kami sepakat menuju tenda yang menjual Empal Gentong dan Empal Asem. Kali ini, saya memilih Empal Asem, kuahnya yang segar dengan potongan daging empal terlihat begitu menggoda. Dan kemudian kami serempak mengucap :
Allahumma bariklana fii maa razaqtanaa waqinaa adza bannaar

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju Makan Sunan Gunungjati. Setelah luntang-lantung selama hampir sejam menunggu angkot, akhirnya angkot yang dinanti muncul juga. Sungguh ekstase yg luar biasa saat kami berempat menaiki angkot menuju Makam Sunan Gunungjati. Imaji kami dipenuhi oleh keramaian Makam Walisongo kala Ramadhan seperti kala Ramadhan di Makam Sunan Ampel. Menikmati malam sambil i’tikaf di masjid kompleks makam Sunan Gunungjati.

Namun, seketika bayangan itu sirna. Oleh angkot kami diturunkan di mulut gang dan suasana gang ini seperti tak menggambarkan gang menuju makam seorang wali besar yang pernah hidup di Jawa. Gang selebar 2 mobil berjajar ini tak ubahnya gang2 perumahan pada umumnya dengan kondisi gelap. Kami masih belum yakin jika kami sudah di jalur yang benar sampai akhirnya kami tiba di mulut gang. Barulah kami ngeh kalau itu memang kompleks makam Sunan Gunungjati. Dan suasana di sini benar2 beda dengan suasana di Sunan Ampel. Jika di sekeliling makam Sunan Ampel banyak bertebaran penjual buku2 agama, minyak wangi, dan busana muslim maka di kompleks makam Sunan Gunungjati banyak bertebaran penjual keris, cincin, kalung sampai jenglot (..nahh..lhoo…koq malah jadi beraroma klenik gini..). Suasana kompleks yang sepi dan gelap membuat aroma klenik makin terasa.

Setibanya di kompleks Sunan Gunungjati, kami didatangi seorang pria paruh baya mendatangi kami dan bertanya “mau ziarah mas?”. Dan kami pun menjawab “iya, tapi koq sepertinya sudah tutup ya”. Kemudian kami memutuskan u/ beristirahat sambil ditemani bapak2 paruh baya yang terus bercerita. Salah satunya tentang beberapa “calon bupati” yang minta bantuannya untuk mendoakan agar menang pemilihan. Salah satu nama yang disebut adalah nama yang cukup santer disebut karena ada permasalahan saat pemilihan. Kemudian cerita dilanjutkan tentang Tim Sukses Pemilihan Gubernur di salah satu propinsi yang juga minta tolong ke beliau lalu kemudian beliau dengan entengnya bilang

“saya gak mau mas dibayar 200juta, masak pilgub cuma 200juta. Kalau pilbup sich gak papa. Lagian ini yang datang juga Tim sukses-nya bukan calonnya langsung. Lha terus nanti yang tandatangan kontrak siapa.?? kalau mau nge-klaim juga ke siapa..??”

Edan bukan..??? dan beliau ini berani menjamin kalau doanya pasti terkabul. Walhasil, kami langsung ilfill dan memutuskan balik kucing mengurungkan niat untuk menginap di kompleks makam Sunan Gunungjati. Segala sumpah serapah kami ucapkan dalam perjalanan meninggalkan kompleks makam Sunan Gunungjati. Baru kali ini ada orang yang berani2nya mengkomersiilkan sebuah doa.

Akhirnya, kami memutuskan menghabiskan malam itu di balai kota sambil menikmati nasi jamblang, salah satu makanan khas dari Cirebon. Malam itu kami menginap di serambi Masjid At-Taqwa. Mengisi energi untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Cirebon : an Escape from Jakarta part 1

Masjid At Taqwa, CirebonAkhir pekan kemarin (6-7 Agt 2011), saya bersama 3 perjaka tanggung memulai kegilaan dengan melakukan aksi ngemper alias nggelandang atau istilah kerennya backpacking ke Cirebon, kota yang juga dikenal sebagai Kota Udang dan juga Kota Wali. Kami berempat sama sekali tidak punya ide destinasi mana yang akan kami tuju, apa yang akan kita kerjain, dll. Satu-satunya hal yang kami sepakat adalah kami akan tidur ngemper di masjid..hahaha
Acara nggelandang dimulai pukul 6 pagi dari Gambir menggunakan kereta Cirebon Express. Sayangnya perjalanana sedikit terganggu saat saya dengan entengnya bangun kesiangan..hehe..walhasil rombongan sudah berangkat lebih dulu dan saya terpaksa ikut kereta jadwal selanjutnya jam 9.

Perjalanan di kereta pun sempat mengalami ketegangan saat tiba terdengar suara keras dari jendela di kursi belakang saya. Ternyata anak2 kecil di sepanjang rel ada yang iseng melempar batu ke arah kereta sehingga menyebabkan kaca jendela retak. Dan beberapa serpihan kaca sempat mengenai penumpang. Untungnya tidak ada yg luka serius. Selanjutnya, perjalanan terasa lancar dan diisi dengan kegiatan-kegiatan default seperti TIDUR…halaahh..

Akhirnya saya tiba dengan selamat di Cirebon menjelang Dzuhur dan gerombolan ngemper sudah menunggu di masjid At Taqwa 500m dari stasiun Cirebon. Akhirnya, siang2 sendirian menyusuri jalanan Cirebon menuju Masjid At Taqwa. Sesampainya di masjid yg saya kira At Taqwa, saya mulai ragu karena tertera tulisan Islamic Center..nahh lhoo…dan ternyata itu nama lainnya masjid At Taqwa..hehehe dan seluruh anggota crew ngemper sudah berkumpul, terdiri dari Ko Hans, Rangga, Wawan dan tentunya saya…hehe

Selepas Dzuhur, kami berempat langsung beraksi dan menjelajah sudut2 jalan kota ini. Tujuan pertama adalah keraton dan tak ada satupun diantara kami yang tahu arah menuju keraton..haha.. Maka kami pun tak sungkan2 menggunakan Kompas Mulut hehe. Alhamdulillah ada Pak Polisi baik hati yang bisa kami tanyain. Namun, kami justru malah dibuat bingung dengan pertanyaan “Keraton mana yang dimaksud? Kasepuhan atau Kanoman? Karena ada 4 Keraton di sini.” What the heck..???

“Ya udah pak, yang paling deket aja dari sini yang layak ditempuh dengan jalan kaki”, jawab kami dengan percaya diri. Dan setelah muter2, nanya2 gak karuan akhirnya sampailah kami di Keraton Kanoman. Sungguh di luar dugaan, kami serasa menemukan kota yang hilang saat tiba di Keraton Kanoman. Letaknya yang berada tersembunyi di belakang pasar Kanoman dan suasana yang sepi serasa berada di salah satu adegan film vampir jaman dulu hehe.. Tak banyak yang kami lakukan di Keraton Kanoman karena museum sedang tutup dan kondisi keraton yang serasa rumah hantu akhirnya membawa kami untuk hanya tidur2an di bawah pohon besar di tengah halaman.

Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan menuju Keraton Kasepuhan. Tadinya kami membayangkan bahwa tempatnya jauh, ternyata tak sampai sejam kami sudah sampai di lokasi. Kami tiba di Kasepuhan menjelang Ashar, sehingga kami memutusan singgah sejenak di Masjid Kasepuhan untuk melanjutkan tidur (halahh..gak penting) sambil menunggu Ashar.

Masjid Kasepuhan ini memiliki arsitektur Jawa dengan tiang dari kayu jati. Terlihat jelas bahwa kayu jati mendominasi arsitektur dan interior masjid. Uniknya, masjid ini ada ruangan khusus di tengah2 dengan lubang pintu masuk setinggi 1,2m dan lebar 40cm. Konon, ruangan ini khusus untuk berdoa karena sholat berjamaah dilakukan di luar ruangan khusus.

Selepas Ashar kami langsung menuju keraton Kasepuhan yang hanya sepelemparan batu dari Masjid Kasepuhan. Semangat kami menggebu-gebu tatkala mengetahui ada even Kemah Pramuka Budaya di kompleks keraton saat itu. Namun, semangat kami langsung sirna saat petugas menyampaikan bahwa Keraton sudah tutup. Akhirnya, kami hanya pas foto2 narsis di depan kompleks yang kebetulan ada bangsal dengan arsitektur khas Keraton Cirebon.

Selesai dari Keraton Kasepuhan, kami kembali menuju Masjid At Taqwa sambil menunggu waktu berbuka dan numpang mandi. Untuk kali ini, kami memutuskan untuk naik angkot daripada puasanya keok..hehe

(..to be continued..)

Nyanyian Ramadhan

sejam..dua jam..tiga jam berlalu
tak terasa bedug adzan dzuhur tlah bertalu
dan aku..
mulai menikmati, mulai menghayati
saat2 asam lambung
mulai mengikis lemak di perut yang kembung

waktu Ashar yang tadinya gusar menjadi debar
debar menunggu bedug maghrib bertalu

Ramadhan…selalu datang dengan sejuta kejutan
bahkan kala malam sunyi pun masih tersimpan kejutan
walau hanya sekedar bunyi petasan